Dalam melakukan transaksi properti syariah pada umumnya harus memperhatikan syarat-syarat tertentu. Salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan transaksi properti berbasis syariah adalah syarat objek Akad dan proses. Nah, untuk mengetahui tentang jenis syarat tersebut lebih lanjut, Anda dapat simak informasinya di bawah ini.

Syarat Proses Dan Akad Properti Berbasis Syariah

1. Akad Dilakukan Secara Langsung

Sesuai dengan aturan dan syariat Islam, akad jual beli suatu barang termasuk properti harus dilakukan dengan bertemunya penjual dan pembeli secara langsung. Pada saat proses akad tidak dibolehkan menggunakan media online. Syarat seperti ini juga diberlakukan untuk transaksi yang bersifat kredit ataupun kredit.

2. Properti yang Dijual Harus Dijelaskan dengan Detail

Produk properti baik rumah maupun tanah yang akan dijual haruslah mempunyai deskripsi yang detail dan jelas. Apabila properti yang diperjualbelikan berupa bangunan rumah, maka harus sudah ada kesepakatan atas bentuk dan ukuran properti yang diperjualbelikan. Apabila detail dari bangunan atau properti belum jelas, maka akad dapat dikatakan tidak sah menurut syariat Islam.

3. Deskripsi Properti Sesuai Kenyataan

Pada saat properti telah diserahterimakan kepada pembeli, haruslah barang tersebut sesuai seperti dengan apa yang ada di deskripsi. Jika dalam detail deskripsi bangunan terdapat 4 kamar maka kenyataannya bangunan juga harus mempunyai 4 buah kamar dengan ukuran yang sesuai deskripsi. Apabila tidak sesuai antara deskripsi dan kenyataan, maka pembeli dapat membatalkan pembelian dikarenakan akad pembelian tidak sah.

4. Waktu Serah Terima Properti Jelas dan Telah Disepakati

Pada saat jual beli properti telah menemui kesepakatan, maka kedua belah pihak baik pembeli dan penjual harus menentukan tempat dan waktu yang jelas untuk proses serah terima. Selanjutnya, dalam tempat dan waktu yang telah disepakati sebelumnya, properti sudah harus diberikan kepada pihak pembeli.

5. Properti Tidak Boleh Dijual Kembali Sebelum Diterima oleh Si Pembeli

Jika Anda sebagai pembeli ingin menjadikan produk properti untuk bisnis dijual kembali, maka sebaiknya pembeli terlebih dahulu menunggu sampai proses serah terima dari developer selesai dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kezaliman akibat adanya ketidaksesuaian antara kenyataan dan deskripsi properti.

6. Barang Tidak Boleh Ditukar di Tengah Proses Transaksi

Properti yang dibeli tidak dibolehkan untuk ditukar dengan benda lain jika terjadi kendala dalam hal transaksi biaya. Pertukaran tersebut hanya dapat terjadi apabila telah ada kesepakatan ataupun barang yang ditukar tersebut sejenis dengan barang yang dibeli.

7. Pembuatan Bangunan dari Properti Dapat Dimulai Setelah Adanya Kesepakatan Akad

Pada saat akad telah disepakati dan uang muka atau DP telah dibayar, barulah proses pembuatan properti bangunan rumah dapat dimulai, jika properti berupa tanah atau lahan. Apabila properti yang dijual belikan adalah rumah jadi, maka proses dan waktu pembuatan tersebut ditiadakan.

Demikian tadi syarat akad dan proses dalam transaksi properti syariah. Semoga informasi ini dapat membantu Anda yang sedang dalam proses jual beli properti berbasis syariah.

By crystal